Keelokan keris sudah tersohor di seluruh dunia. Selain dapat dijadikan senjata saat peperangan, keris dapat dijadikan pajangan dan bahkan dikeramatkan. Setiap lekuk keris adalah keindahan dan setiap bagian memiliki keindahannya sendiri-sendiri. Baik dari bilah kerisnya sendiri yang biasa memiliki ukiran tersendiri hingga “sabuknya” memiliki keindahan tersendiri. Bahkan, “sabuk” keris ini memiliki pengrajinnya tersendiri yang disebut sebagai meranggi—atau lebih tepatnya seseorang yang bekerja sebagai perajin dan pengukir rangka keris. Salah satunya adalah Bapak Sumadi dari Semawung. Bapak Sumadi merupakan generasi ketiga meranggi di keluarga beliau. Beliau mewarisi keahlian dari bapak beliau yang kebetulan juga abdi dalem Kraton Ngayogyakarta. Bapak Sumadi berasal dari Ring Road Timur, daerah Blok O, Yogyakarta, namun sekarang tinggal di Semawung bersama keluarganya. Meski begitu, Pak Sumadi tetap mendapatkan order dari banyak wilayah dan malah kebanyakan kolektor dari luar kota—bahkan sesekali turis. Pak Sumadi bekerja sesuai dengan pesanan dan setidaknya dalam sebulan dapat menghasilkan 3-4 pesanan. Sekali pun begitu, harga yang dipatok oleh Pak Sumadi memang pas untuk sesuatu yang dikerjakan secara manual dan dengan barang-barang material yang berkualitas. Pak Sumadi selalu menggunakan kuningan untuk membuat pendhok atau bagian luar dari sabuk keris yang biasa diukir. Ukiran yang Pak Sumadi buat juga tidak bisa sembarang. Ini dikarenakan semua ukiran keris sudah memiliki patokannya sendiri-sendiri—dan bisa dipilih dan dilihat dalam katalog. Gaya yang dianut oleh Pak Sumadi adalah Gaya Imogiri dan telah memiliki ukuran standard untuk ukiran keris. Sementara itu, untuk bagian deder, rangka, serta ganter keris Pak Sumadi biasa menggunakan kayu timoho, akasia, dan cendana. Semakin langka kayu yang dipilih, semakin berkualitas rangka keris yang dibuat. Selain itu, pilihan kayu juga memengaruhi harga. Pak Sumadi menyatakan bahwa asal diplitur, kayu tersebut akan tahan lama dan tidak akan dimakan rayap. Pak Sumadi biasa mendapatkan bahan baku dari Jawa Timur. Usaha yang dijalankan dengan modal Pak Sumadi sendiri sejak tahun 1973 ini sebenarnya mengalami banyak kendala. Misalnya saja, beliau tidak begitu berani untuk mengekspor karya beliau ke luar negeri karena sering kali bermasalah di bea cukai. Pak Sumadi juga kesulitan untuk melanjutkan usaha turun-temurunnya ini karena menjadi meranggi perlu keahlian tersendiri dan beliau kesulitan untuk mencari suksesornya. Selain itu, Pak Sumadi juga sedikit menyayangkan kurang aktifnya lagi perkumpulan keris di Purworejo yang padahal sempat naik. Meski begitu untuk masalah marketing sekali pun Pak Sumadi tidak banyak menjajakan karyanya di media sosial, nama “Pak Sumadi Meranggi Purworejo” sudah terlanjur tersohor di dunia perkerisan nasional dan banyak orang yang sering meminta jasanya. Pak Sumadi sendiri biasa mematok sepaket rangka keris pada kisaran 300.000 rupiah tergantung pada tingkat kesulitan dan juga bahan baku yang dipilih pesanan. Selain rangka keris, Pak Sumadi juga menerima jasa pembuatan rangka tombak yang berada pada kisaran 400.000 rupiah perbuah. Sekali pun tidak punya keris di rumah atau tidak tertarik untuk membuat keris pun pintu rumah Pak Sumadi selalu terbuka untuk tamu yang bersedia untuk belajar soal keris—terutama meranggi. Kita bisa temui Pak Sumadi di Dusun Kenyaen II, Desa Semawung, rumah warna oranye, di depan lapangan voli dan kolam ikan.
Close Menu